PASKAH
PASKAH MERUPAKAN TRANSFORMASI PARADIGMA UMAT MANUSIA
TENTANG KARYA PENEBUSAN OLEH YESUS KRISTUS
Kalau anak-anak sekolah minggu ditanya apa arti
Paskah kepada mereka kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, ada yang jawabnya
serius adapula yang kocak, namun itulah anak-anak. Lalu bagaimana makna Paskah
yang sesungguhnya. Kita coba mengupasnya dari konteks yang sesungguhnya dan
pemahaman kita di zaman sekarang.
YESUS
HIDUP
Yesus hidup...Yesus hidup...mungkin
seperti itulah kira-kira kata-kata yang diungkapkan oleh sahabat, keluarga dan
pengikut Yesus kala itu, saya pun membayangkan seandainya kita sudah hidup di saat
itu tentu akan mengalami hal serupa. barangkali kita akan berlarian untuk memastikan
kebenaran informasi tersebut. Bahkan bisa jadi, gua tempat Yesus di semayamkan
akan menjadi lautan manusia yang penasaran untuk memastikan kebenaran informasi
tersebut. Bagaimana tidak kaget, Yesus
yang tiga hari lalu jelas disaksikan oleh ratusan orang bahwa sudah wafat di atas
kayu salib kok bisa hidup kembali. Seteru-seteru Yesus dan para algojo tentu kaget
bukan kepalang karena mereka yakin bahwa Yesus adalah manusia tulen dan mereka
juga menyaksikan langsung detik-detik
kematian Yesus sehingga mereka yakin bahwa Yesus sudah mati, tinggal diturunkan
dari salib untuk dikuburkan tidk mungkin hidup lagi.
Bila ditinjau dari segi Medis, darah Yesus sebagai manusia
(laki-laki dewasa) hanya ± 5 liter, padahal darah Yesus sudah mulai bercucuran
sebelum penangkapan diriNya terjadi, yaitu di Taman Getsemani saat Dia berdoa
di dalam Kitab....., tak lama kemudian Yudas Iskariot dan rombongan datang dan
menangkap Yesus, sepanjang malam itu Dia digiring kesana kemari dicerca,
dicambuk, diolok-olok, diludahi, ditendang, tidak makan, bercucuran keringat.
Sudah dipastikan bahwa mengantuk, lapar, haus akan mendera karena tidak ada
kesempatan untuk istirahat barang sejenak jadi seharusnya sudah lemas karena
dehidrasi namun Yesus tetap tegar dan kuat menjalani. Orang datang silih
berganti, ancaman, dan siksaan tidak berhenti. Bisa dibayangkan,saat itu Yesus
sebagai manusia pasti ketakutan, sedih, kecewa dan cemas semua bercampur aduk.
Selama menjalani tragedi ini, tak satu kata kutuk atau kata kasar yg keluar
dari bibirNya walaupun Dia sanggup melepaskan diri namun Yesus harus
mengerjakan ini sebagai penggenapan janji penebusan. Dia menjalani semua dengan
tabah. Darah mulai mengucur deras karena saat Dia sudah di vonis oleh massa untuk
digantung di kayu salib, maka Yesus harus memikul salib sambil berjalan
terkadang ditendang dan disuruh berlari sambil menerima cambukan dari para
Algojo. Kalau dipikir dengan logoka kita sebenarnya Yesus sudah mati sebelum di
salib karena pada saat dicambuk, tubuh Yesus sudah robek dan darah terus
mengalir, untung saja Yusuf seorang Arimatia rela membantu memikulkan Salib
Yesus hingga bukit Golgota seandainya Yesus tidak dibantu kemungkinan tidak
sampai di bukit Golgota karena jaraknya cukup jauh
YESUS DITINGGALKAN MURID-MURIDNYA.
Seperti halnya manusia pada umumnya, dimasa kejayaan
selalu dielu-elukan banyak orang tapi ketika seseorang yang mengalami suatu
musibah “kejatuhan” maka orang tersebut dipastikan akan ditinggalkan begitu
saja, hal ini yang dialami Yesus saat peristiwa penggrebekan dirinya terjadi. Salah
satu bukti nyata yaitu ketika Simon Petrus menyangkal bahwa dia bukan salah
satu pengikut Yesus ketika ditanya oleh seorang wanita, padahal Simon merupakan
salah satu murid yang melihat langsung mujizat yang dilakukan Yesus saat menjala
ikan.
PASKAH
DALAM PERJANJIAN LAMA
Hari Raya Paskah pada perjanjian lama merupakan hari
peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat itu anak-anak
sulung bangsa Mesir dibunuh, namun pintu-pintu rumah orang Ibrani dilewati
(dilewati atau melewati dalam bahasa Ibrani adalah “ Pésah “). Peristiwa itu
diperingati dengan makan “korban Paskah”. Dalam perjanjian baru “korban Paskah”
adalah Yesus Kristus sendiri yang disebut juga dengan “Anak Domba yang
disembelih”. Dalam perkembangannya Hari Raya Paskah mendapat nuansa baru yaitu
perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Hal ini dapat dibaca dalam Kitab Keluaran.
12: 12-13, yaitu pada peristiwa kematian semua anak sulung di tanah Mesir, baik
manusia mau pun binatang.
PASKAH
DALAM PERJANJIAN BARU
Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita petik yaitu
:
1.
Kematian
Yesus Kristus telah menebus kita
Tidak ada arti yang lebih indah dalam
peringatan Paskah, kecuali : kita ditebus oleh darah Yesus Kristus. Rasus
Petrus mengatakan bahwa kita ditebus bukan dengan barang-barang fana seperti
emas, perak yang dapat sirna, tetapi dengan darah Kristus yang kekal dan mulia.
Inilah arti Paskah bagi kita, marilah kita menghargai apa yang sudah dilakukan
Yesus Kristus di Golgota seperti yang tertulis dalam Kitab 1 Pet 1 : 18 – 19,
Hanya dengan jalan inilah manusia dapat berkomunikasi lagi dengan
Allah.Akhirnya di atas kayu salib di Golgota itu telah terjadi suatu penebusan
atau pembayaran yang tidak ternilai harganya, yang jauh lebih mahal dari nilai
kita yang sesungguhnya
2.
Kebangkitan
Yesus Kristus memberikan Pengharapan
Dalam I Korintus 15 : 14 Rasul Paulus
mengatakan Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaanmu. Disini Rasul Paulus
menegaskan bahwa wahai saudara-saudara, Yesus yang telah disalib dan mati di
Golgota sudah sesuai prosedur seperti yang telah digaungkan oleh para Nabi jauh
sebelum Yesus lahir yaitu akan datang seorang Mesias sebagai pendamai Manusia
dengan Allah, ia akan lahir sebagai manusia, mati dan akan bangkit mengalahkan
kuasa maut sebagai suatu karya yang maha agung. Mengapa harus didamaikan,
karena akibat dosa yang telah dilakukan Adam dan Hawa dengan memakan buah
pengetahuan tentang hal yang baik atas tipuan licik iblis sehingga hibungan
antara Allah dan manusia terputus.
3.
Kebangkitan
Yesus Kristus telah mengubah kita
Ketika seorang manusia terlahir maka
status pendosa sudah melekat pada dirinya maka kita adalah seteru Allah karena
sifat Allah dengan kemahasucianNya tidak akan kompromi dengan pendosa. Di dalam
Kitab Roma 6 : 23 mengatakan upah dosa adalah maut. Logika yang dipakai adalah
bahwa semua orang akan mengalami maut atau kebinasaan namun dengan kebangkitan
Kristus memberikan sebuah perubahan yang nyata dalam hidup kita. Status kita
bukan lagi “seteru Allah” melainkan menjadi “anak-anak Allah” (Yoh 1:12).
Status kita sudah berubah total. Bukan lagi sebagai seorang musuh tetapi
seorang “anak angkat” Raja segala raja.
LALU PASKAH ITU PERAYAAN KEMATIAN ATAU
KEBANGKITAN YESUS
Seperti
pada awal penulisan bahwa ketika kita bertanya kepada anak-anak sekolah minggu,
kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, lalu perayaan ini ditujukan untuk
apa ? perayaan paskah kita laksanakan sebagai tanda sukacita umat manusia atas
terbebasnya dari kuasa maut dengan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus
membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa atas maut. Alkitab memberikan
bukti bahwa pagi-pagi benar ketika fajar menyingsing pada hari pertama minggu
itu para wanita mendapati kubur Yesus yang kosong, lalu muncul seorang malaikat
yang mengatakan kepada mereka bahwa Yesus yang kamu cari telah bangkit (Matius
28:1-2), dari mulut ke mulut terdengar berita bahwa Yesus hidup dan bangkit.
Dari peristiwa ini kita bisa menarik makna yang sangat penting bahwa Yesus adalah
Allah yang tidak dapat dikekang oleh maut. Ia adalah Allah yang berkuasa atas
kuasa maut.
Jauh
sebelum peristiwa ini terjadi Yesus telah memberitahukan kepada para murid- Nya
bahwa Ia akan diserahkan ke tangan orang berdosa dan akan mati, namun pada hari
yang ketiga akan dibangkitkan (Luk. 24:7). Peristiwa Paskah adalah pembuktian
janji Tuhan bagi semua umat manusia. Di samping itu kebangkitan- Nya merupakan
peneguhan dari janji-Nya. Kristus bangkit dari kematian untuk menggenapi firman
Tuhan, sejalan dengan itu Alkitab dalam I Kor. 15: 13-17 menjelaskan bahwa
kebangkitan Yesus adalah penggenapan janji kehidupan yang kekal.
Dengan
kebangkitan Yesus dari kematian, maka sesuai dengan 1 Kor. 15:13-19 kita
dianugerahi hidup kekal. Kita bisa berpikir secara logis dalam hal ini, jika
Sang Pemberi Hidup tetap dalam kubur bagaimana mungkin kita akan mendapatkan
hidup kekal ? Tetapi syukur kepada Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa dosa
dan maut sehingga kita menerima hidup kekal. Rasul Paulus menekankan pentingnya
peristiwa kebangkitan Yesus dalam iman Kristen. Orang-orang yang percaya kepada
Tuhan selalu bertumpu pada iman dan pengharapan, jadi dengan peristiwa Paskah
iman dan harapan kita makin diteguhkan. Inilah yang menjadi pembeda antara
Yesus dengan tokoh-tokoh lain di muka bumi, karena Yesus bukan hanya memiliki
hari kelahiran dan kematian, tetapi juga hari kebangkitan.
TRANSFORMASI BAGI ORANG YANG PERCAYA
Ketika
seseorang memutuskan untuk percaya maka ia akan mengalami transformasi internal
dan eksternal dalam dirinya. Apa saja transformasi internal dan eksternal yang
di maksud ?
1.
Transformasi
internal
a.
Transformasi
posisi ( Position Transformation )
Ketika
seseorang mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus maka hal pertama yang
dialami adalah trasnformasi posisi dari
orang berdosa menjadi orang benar, dari musuh Allah menjadi anak Allah,
dari orang yang mengalami kematian kekal menjadi mendapat hidup yang kekal,
dari orang yang terkutuk menjadi orang yang diberkati, dari penyembah berhala
menjadi penyembah Allah yang hidup dan benar. Sehingga sekalipun “masih berada
dalam dunia tetapi bukan berasal dari dunia” karena telah menjadi warga
kerajaan Allah. Jadi ia akan mengalami kelahiran kembali secara roh, Rasul
Paulus menyebutnya dengan istilah “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17)
b.
Transformasi
perilaku (Behavior Transformation )
Sedangkan
transformasi perilaku adalah transformasi pikiran yang disebut oleh Rasul
Paulus pembaharuan budi ( behavior ) yang meliputi: karakter, sikap, maupun
perilaku seseorang yang bisa diamati ( Visibel ) seperti yang dimaksud Rasul
Paulus dalam Kolose 3 : 9-10... karena kamu telah menanggalkan manusia lama
serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus
diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.
2. Transformasi eksternal
Transformasi Komunitas
(Community Transformation)
Transformasi komunitas ini terjadi karena kehadiran
orang percaya. Sebelumnya kita perlu pahami dulu bahwa Komunitas ialah
lingkungan hidup dimana seseorang berinteraksi dengan orang lain atau dengan
pengertian lain komunitas adalah sekumpulan orang dengan tujuan yang sama dan
saling berinteraksi. Jadi kehadiran orang Kristen ( Pengikut Kristus )
dimanapun harus mampu berperan aktif sebagai agen perubahan kearah positif.
Dalam lingkungan yang plural kita perlu berhikmat dalam menjalin persaudaraan
sebagai sesama umat ciptaan Allah. Dengan cara demikian kita telah memenuhi
fungsi kita sebagai “garam” dan “terang dunia”. Dimana garam digunakan untuk
mencegah pembusukan pada daging dan memberi rasa pada masakan, sedangkan terang
memberi pengaruh terhadap gelap sehingga gelap menjadi sirna karena kehadiran
terang.
TELUR PASKAH
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Telur Paskah
berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa di mana telur merupakan simbol
musim semi. Pada masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur
pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya
tahun yang baru. Pada abad-abad pertama kekristenan, tradisi ini sulit dihapus
karena hari Paskah memang kebetulan jatuh pada setiap awal musim semi. Perayaan
musim semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan
musim dingin. Dalam Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai
simbol makam batu di mana Yesus keluar menyongsong hidup baru melalui
kebangkitan-Nya.
KELINCI PASKAH
Sebenarnya kelinci Paskah bukan dibagikan seperti
telur tapi kelinci diyakini oleh anak-anak bahwa malam menjelang Paskah kelinci
akan berkeliling untuk membagikan telur warna-warni kepada anak-anak yang tidak
nakal, yang suka menurut apa kata orang tua dan mereka akan siapkan tempat
khusus untuk kelinci bertelur, hal ini yang di adopsi oleh Gereja masa kini
dengan tradisi mencari telur Paskah. Ini pertama kali digagas di Jerman pada
tahun 1600an.
Jadi saudara seiman dimanapun berada, khususnya kita
yang hidup di era ini, tentu kita tak harus melaksanakan Paskah dengan rasa
haru, atau dengan sukacita dan perta pora yang berlebihan tetapi kita peringati
Paskah sebagai hari pembebasan kita dari belenggu dosa dalam kesederhanaan namun penuh rasa khidmat.
Selamat merayakan Paskah Tahun 2016. Tuhan Yesus
memberkati kita sekalian. Amin