Sabtu, 09 Februari 2019

Transformasi Paradigma manusia Tentang Karya Penebusan


PASKAH 

PASKAH  MERUPAKAN TRANSFORMASI PARADIGMA UMAT MANUSIA TENTANG KARYA PENEBUSAN OLEH YESUS KRISTUS

Kalau anak-anak sekolah minggu ditanya apa arti Paskah kepada mereka kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, ada yang jawabnya serius adapula yang kocak, namun itulah anak-anak. Lalu bagaimana makna Paskah yang sesungguhnya. Kita coba mengupasnya dari konteks yang sesungguhnya dan pemahaman kita di zaman sekarang.

YESUS HIDUP 
Yesus hidup...Yesus hidup...mungkin seperti itulah kira-kira kata-kata yang diungkapkan oleh sahabat, keluarga dan pengikut Yesus kala itu, saya pun membayangkan seandainya kita sudah hidup di saat itu tentu akan mengalami hal serupa. barangkali kita akan berlarian untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Bahkan bisa jadi, gua tempat Yesus di semayamkan akan menjadi lautan manusia yang penasaran untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.  Bagaimana tidak kaget, Yesus yang tiga hari lalu jelas disaksikan oleh ratusan orang bahwa sudah wafat di atas kayu salib kok bisa hidup kembali. Seteru-seteru Yesus dan para algojo tentu kaget bukan kepalang karena mereka yakin bahwa Yesus adalah manusia tulen dan mereka juga menyaksikan langsung  detik-detik kematian Yesus sehingga mereka yakin bahwa Yesus sudah mati, tinggal diturunkan dari salib untuk dikuburkan tidk mungkin hidup lagi.
Bila ditinjau dari segi Medis, darah Yesus sebagai manusia (laki-laki dewasa) hanya ± 5 liter, padahal darah Yesus sudah mulai bercucuran sebelum penangkapan diriNya terjadi, yaitu di Taman Getsemani saat Dia berdoa di dalam Kitab....., tak lama kemudian Yudas Iskariot dan rombongan datang dan menangkap Yesus, sepanjang malam itu Dia digiring kesana kemari dicerca, dicambuk, diolok-olok, diludahi, ditendang, tidak makan, bercucuran keringat. Sudah dipastikan bahwa mengantuk, lapar, haus akan mendera karena tidak ada kesempatan untuk istirahat barang sejenak jadi seharusnya sudah lemas karena dehidrasi namun Yesus tetap tegar dan kuat menjalani. Orang datang silih berganti, ancaman, dan siksaan tidak berhenti. Bisa dibayangkan,saat itu Yesus sebagai manusia pasti ketakutan, sedih, kecewa dan cemas semua bercampur aduk. Selama menjalani tragedi ini, tak satu kata kutuk atau kata kasar yg keluar dari bibirNya walaupun Dia sanggup melepaskan diri namun Yesus harus mengerjakan ini sebagai penggenapan janji penebusan. Dia menjalani semua dengan tabah. Darah mulai mengucur deras karena saat Dia sudah di vonis oleh massa untuk digantung di kayu salib, maka Yesus harus memikul salib sambil berjalan terkadang ditendang dan disuruh berlari sambil menerima cambukan dari para Algojo. Kalau dipikir dengan logoka kita sebenarnya Yesus sudah mati sebelum di salib karena pada saat dicambuk, tubuh Yesus sudah robek dan darah terus mengalir, untung saja Yusuf seorang Arimatia rela membantu memikulkan Salib Yesus hingga bukit Golgota seandainya Yesus tidak dibantu kemungkinan tidak sampai di bukit Golgota karena jaraknya cukup jauh

YESUS DITINGGALKAN MURID-MURIDNYA.
Seperti halnya manusia pada umumnya, dimasa kejayaan selalu dielu-elukan banyak orang tapi ketika seseorang yang mengalami suatu musibah “kejatuhan” maka orang tersebut dipastikan akan ditinggalkan begitu saja, hal ini yang dialami Yesus saat peristiwa penggrebekan dirinya terjadi. Salah satu bukti nyata yaitu ketika Simon Petrus menyangkal bahwa dia bukan salah satu pengikut Yesus ketika ditanya oleh seorang wanita, padahal Simon merupakan salah satu murid yang melihat langsung mujizat yang dilakukan Yesus saat menjala ikan.

PASKAH DALAM PERJANJIAN LAMA
Hari Raya Paskah pada perjanjian lama merupakan hari peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat itu anak-anak sulung bangsa Mesir dibunuh, namun pintu-pintu rumah orang Ibrani dilewati (dilewati atau melewati dalam bahasa Ibrani adalah “ Pésah “). Peristiwa itu diperingati dengan makan “korban Paskah”. Dalam perjanjian baru “korban Paskah” adalah Yesus Kristus sendiri yang disebut juga dengan “Anak Domba yang disembelih”. Dalam perkembangannya Hari Raya Paskah mendapat nuansa baru yaitu perayaan kebangkitan Yesus Kristus. Hal ini dapat dibaca dalam Kitab Keluaran. 12: 12-13, yaitu pada peristiwa kematian semua anak sulung di tanah Mesir, baik manusia mau pun binatang.

PASKAH DALAM PERJANJIAN BARU
Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita petik yaitu :
1.      Kematian Yesus Kristus telah menebus kita
Tidak ada arti yang lebih indah dalam peringatan Paskah, kecuali : kita ditebus oleh darah Yesus Kristus. Rasus Petrus mengatakan bahwa kita ditebus bukan dengan barang-barang fana seperti emas, perak yang dapat sirna, tetapi dengan darah Kristus yang kekal dan mulia. Inilah arti Paskah bagi kita, marilah kita menghargai apa yang sudah dilakukan Yesus Kristus di Golgota seperti yang tertulis dalam Kitab 1 Pet 1 : 18 – 19, Hanya dengan jalan inilah manusia dapat berkomunikasi lagi dengan Allah.Akhirnya di atas kayu salib di Golgota itu telah terjadi suatu penebusan atau pembayaran yang tidak ternilai harganya, yang jauh lebih mahal dari nilai kita yang sesungguhnya
2.      Kebangkitan Yesus Kristus memberikan Pengharapan
Dalam I Korintus 15 : 14 Rasul Paulus mengatakan Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaanmu. Disini Rasul Paulus menegaskan bahwa wahai saudara-saudara, Yesus yang telah disalib dan mati di Golgota sudah sesuai prosedur seperti yang telah digaungkan oleh para Nabi jauh sebelum Yesus lahir yaitu akan datang seorang Mesias sebagai pendamai Manusia dengan Allah, ia akan lahir sebagai manusia, mati dan akan bangkit mengalahkan kuasa maut sebagai suatu karya yang maha agung. Mengapa harus didamaikan, karena akibat dosa yang telah dilakukan Adam dan Hawa dengan memakan buah pengetahuan tentang hal yang baik atas tipuan licik iblis sehingga hibungan antara Allah dan manusia terputus.
3.      Kebangkitan Yesus Kristus telah mengubah kita
Ketika seorang manusia terlahir maka status pendosa sudah melekat pada dirinya maka kita adalah seteru Allah karena sifat Allah dengan kemahasucianNya tidak akan kompromi dengan pendosa. Di dalam Kitab Roma 6 : 23 mengatakan upah dosa adalah maut. Logika yang dipakai adalah bahwa semua orang akan mengalami maut atau kebinasaan namun dengan kebangkitan Kristus memberikan sebuah perubahan yang nyata dalam hidup kita. Status kita bukan lagi “seteru Allah” melainkan menjadi “anak-anak Allah” (Yoh 1:12). Status kita sudah berubah total. Bukan lagi sebagai seorang musuh tetapi seorang “anak angkat” Raja segala raja.

LALU PASKAH ITU PERAYAAN KEMATIAN ATAU KEBANGKITAN YESUS

Seperti pada awal penulisan bahwa ketika kita bertanya kepada anak-anak sekolah minggu, kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, lalu perayaan ini ditujukan untuk apa ? perayaan paskah kita laksanakan sebagai tanda sukacita umat manusia atas terbebasnya dari kuasa maut dengan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa atas maut. Alkitab memberikan bukti bahwa pagi-pagi benar ketika fajar menyingsing pada hari pertama minggu itu para wanita mendapati kubur Yesus yang kosong, lalu muncul seorang malaikat yang mengatakan kepada mereka bahwa Yesus yang kamu cari telah bangkit (Matius 28:1-2), dari mulut ke mulut terdengar berita bahwa Yesus hidup dan bangkit. Dari peristiwa ini kita bisa menarik makna yang sangat penting bahwa Yesus adalah Allah yang tidak dapat dikekang oleh maut. Ia adalah Allah yang berkuasa atas kuasa maut.
Jauh sebelum peristiwa ini terjadi Yesus telah memberitahukan kepada para murid- Nya bahwa Ia akan diserahkan ke tangan orang berdosa dan akan mati, namun pada hari yang ketiga akan dibangkitkan (Luk. 24:7). Peristiwa Paskah adalah pembuktian janji Tuhan bagi semua umat manusia. Di samping itu kebangkitan- Nya merupakan peneguhan dari janji-Nya. Kristus bangkit dari kematian untuk menggenapi firman Tuhan, sejalan dengan itu Alkitab dalam I Kor. 15: 13-17 menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus adalah penggenapan janji kehidupan yang kekal.
Dengan kebangkitan Yesus dari kematian, maka sesuai dengan 1 Kor. 15:13-19 kita dianugerahi hidup kekal. Kita bisa berpikir secara logis dalam hal ini, jika Sang Pemberi Hidup tetap dalam kubur bagaimana mungkin kita akan mendapatkan hidup kekal ? Tetapi syukur kepada Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa dosa dan maut sehingga kita menerima hidup kekal. Rasul Paulus menekankan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus dalam iman Kristen. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan selalu bertumpu pada iman dan pengharapan, jadi dengan peristiwa Paskah iman dan harapan kita makin diteguhkan. Inilah yang menjadi pembeda antara Yesus dengan tokoh-tokoh lain di muka bumi, karena Yesus bukan hanya memiliki hari kelahiran dan kematian, tetapi juga hari kebangkitan.

TRANSFORMASI BAGI ORANG YANG PERCAYA
Ketika seseorang memutuskan untuk percaya maka ia akan mengalami transformasi internal dan eksternal dalam dirinya. Apa saja transformasi internal dan eksternal yang di maksud ?
1.      Transformasi internal
a.       Transformasi posisi ( Position Transformation )
Ketika seseorang mengambil keputusan untuk percaya kepada Yesus maka hal pertama yang dialami adalah trasnformasi posisi dari  orang berdosa menjadi orang benar, dari musuh Allah menjadi anak Allah, dari orang yang mengalami kematian kekal menjadi mendapat hidup yang kekal, dari orang yang terkutuk menjadi orang yang diberkati, dari penyembah berhala menjadi penyembah Allah yang hidup dan benar. Sehingga sekalipun “masih berada dalam dunia tetapi bukan berasal dari dunia” karena telah menjadi warga kerajaan Allah. Jadi ia akan mengalami kelahiran kembali secara roh, Rasul Paulus menyebutnya dengan istilah “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17)
b.      Transformasi perilaku (Behavior Transformation )
Sedangkan transformasi perilaku adalah transformasi pikiran yang disebut oleh Rasul Paulus pembaharuan budi ( behavior ) yang meliputi: karakter, sikap, maupun perilaku seseorang yang bisa diamati ( Visibel ) seperti yang dimaksud Rasul Paulus dalam Kolose 3 : 9-10... karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.
2.      Transformasi eksternal
Transformasi Komunitas (Community Transformation)
Transformasi komunitas ini terjadi karena kehadiran orang percaya. Sebelumnya kita perlu pahami dulu bahwa Komunitas ialah lingkungan hidup dimana seseorang berinteraksi dengan orang lain atau dengan pengertian lain komunitas adalah sekumpulan orang dengan tujuan yang sama dan saling berinteraksi. Jadi kehadiran orang Kristen ( Pengikut Kristus ) dimanapun harus mampu berperan aktif sebagai agen perubahan kearah positif. Dalam lingkungan yang plural kita perlu berhikmat dalam menjalin persaudaraan sebagai sesama umat ciptaan Allah. Dengan cara demikian kita telah memenuhi fungsi kita sebagai “garam” dan “terang dunia”. Dimana garam digunakan untuk mencegah pembusukan pada daging dan memberi rasa pada masakan, sedangkan terang memberi pengaruh terhadap gelap sehingga gelap menjadi sirna karena kehadiran terang.

TELUR PASKAH
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa di mana telur merupakan simbol musim semi. Pada masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru. Pada abad-abad pertama kekristenan, tradisi ini sulit dihapus karena hari Paskah memang kebetulan jatuh pada setiap awal musim semi. Perayaan musim semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan musim dingin. Dalam Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu di mana Yesus keluar menyongsong hidup baru melalui kebangkitan-Nya.

KELINCI PASKAH
Sebenarnya kelinci Paskah bukan dibagikan seperti telur tapi kelinci diyakini oleh anak-anak bahwa malam menjelang Paskah kelinci akan berkeliling untuk membagikan telur warna-warni kepada anak-anak yang tidak nakal, yang suka menurut apa kata orang tua dan mereka akan siapkan tempat khusus untuk kelinci bertelur, hal ini yang di adopsi oleh Gereja masa kini dengan tradisi mencari telur Paskah. Ini pertama kali digagas di Jerman pada tahun 1600an.
Jadi saudara seiman dimanapun berada, khususnya kita yang hidup di era ini, tentu kita tak harus melaksanakan Paskah dengan rasa haru, atau dengan sukacita dan perta pora yang berlebihan tetapi kita peringati Paskah sebagai hari pembebasan kita dari belenggu dosa  dalam kesederhanaan namun penuh rasa khidmat.
Selamat merayakan Paskah Tahun 2016. Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. Amin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar